elKahfie

warna warni kehidupan

Pendidikan Tuhan

Allah SWT, berfirman dalam Al-Qur’an S.Luqman:

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. QS. Luqman: 13
Inilah contoh nyata dalam Al-Qur’an, dimana seorang ayah mendidik/ memberi pelajaran kepada anaknya agar tidak mempersekutukan Allah SWT, yaitu dengan cara beribadah/ menyembah Allah SWT semata, bukan selainnya…
Seorang Umara’ (Presiden/ Pejabat) adalah ayah bagi rakyat yang dipimpinnyanya… seorang Guru adalah ayah bagi  Siswa –siswinya… dan seandainya Para Ayah /Para Penguasa negeri ini menasehati rakyatnya, seperti Luqman menasehati anaknya… atau dalam lingkup yang lebih kecil, dalam lingkup sekolah Para Bapak dan Ibu Guru menasehati para siswa-siswinya seperti Luqman menasehati anaknya, atau lingkup yang lebih kecil lagi dalam satu rumah,  setiap Ayah (Kepala Rumah Tangga) menapaki jejaknya Pak Luqman… dan kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, pastilah negeri ini, kota ini akan kembali menjadi negeri yang makmur “gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo” serta akan tercipta generasi-generasi yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, yang lebih baik.”Insya Allah…”
Jangan katakan: “itu mah bukan bidang saya, saya kan guru bahasa, atau saya kan guru olah raga, atau mungkin juga.. keahlian saya kan di bidang ini /itu …mana mungkin???” jangan, jangan katakan demikian..
Al Qur’anul Karim dipenuhi “Ibroh” dari kehidupan orang-orang beriman di masa lalu. Kisah-kisah dalam Kitabullah bukan hanya sekedar cerita atau dongeng sebelum tidur, tapi merupakan contoh teladan dan pelajaran yang penting bagi setiap insan beriman untuk meningkatkan kwalitas iman dan taqwa kepada Allah SWT. Jika demikian, lihatlah contoh teladan dari Para Nabi utusan Allah.
Ketahuilah!!!… Para Anbiya’ (Nabi-nabi) mereka adalah pakar dalam bidangnya… ada Nabi Nuh as, yang ahli dalam bidang pertukangan (tukang kayu) dan perkapalan, Namun Beliau tidak hanya mengajarkan pertukangan kepada kaumnya… diajarkannya kaum Beliau “Tauhid” (mengesakan Allah), jangan menyekutukanNya…. Nabi Sholih as, yang ahli dalam bidang kontruksi, sampai-sampai… batu-batu besar dapat dipecah belah, membangun rumah-rumah mewah diatas gunung, membuat jalan raya dan membangun kota-kota besar di atas gunung-gunung dengan ukiran-ukiran /pahatan…. Nabi Sulaiman as, Beliau sangat ahli dalam Ilmu Bahasa, jangankan bahasa manusia, bahasa jin pun Beliau kuasai sampai-sampai bahasa binatang Beliau menguasainya… kemudian, Nabi yang paling cakep… siapa namanya???… Nabi Yasuf as, Beliau ahli dalam mengatur pemerintahan, sehingga masa paceklik 7 tahun dapat diatasi dengan masa panen 7 tahun sebelumnya… Nabi Musa as dan Harun as, ahli dalam bidang politik, sehingga Fir’aun dan bala tentaranya dapat di tenggelamkan di laut merah… dalam bidang kedokteran Nabi Isa ahlinya… dari penyakit yang biasa hingga yang luar biasa, orang yang buta sejak lahir dapat disembuhkan, sampai menghidupkan orang yang telah mati… dan masih banyak Para Nabi yang demikian….
Mereka (Para Nabi) tidak hanya mengajarkan keahlian-keahliannya kepada umat-nya, namun Beliau juga mengajarkan Tauhid (mengesakan Allah SWT) dengan cara beribadah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Terutama masalah shalat, Kedudukan shalat bagi orang yang mukallaf (baligh dan berakal) ibarat kepala bagi badan, jika tangan hilang masih bisa dikatakan manusia, apabila kaki hilang masih dapat disebut manusia, namun apabila kepala yang hilang maka sudah bukan manusia lagi, tapi Almarhum alias mati.
Dari sini, dari blog ini, dari tempat ini marilah kita kembali kepada Allah SWT, melalui jalan yang telah di ajarkan Rasulullahi SAW,

firman Allah dalam Al-Qur’an, S. Al-’Ashr: 1-3

1. Demi masa.

2. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian.

3. kecuali  Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran.

“Dzikir ala Beo”

Sahabat…, yang Tua dan yang Muda, yang Alim dan yang Awam, yang Kaya dan yang Fakir, yang Pejabat dan yang Rakyat biasa, hampir setiap saat… setiap waktu… dan di setiap tempat… kita sering berdzikir: Subhanallah… Alhamdulillah… Laailahaillallah… Allah Akbar…
Pada dasarnya berdzikir/ mengingat Allah, hakikatnya dan manfaatnya kembali kepada kita, untuk diri kita sendiri. Sesuai dengan firman Allah SWT: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d: 28).
Hikmah Dzikir itu diantaranya adalah dapat menenangkan hati. Jika sahabat sudah berdzikir, Subhanallah…, Alhamdulillah…., Laailahaillallah…, Allahu Akbar…, atau dzikir-dzikir yang lain, tetapi tidak menimbulkan rasa tenteram di hati sahabat, janganlah engkau bersedih hati. Sebab tujuan utama dzikir itu bukanlah mencari ketenangan, akan tetapi tujuan dzikir itu adalah menuju kepada Allah dan kembali kepada Allah dengan selalu bertafakkur akan kebesaran -kebesaran-Nya. Jika sahabat bisa menuju dan kembali kepada Allah serta bertafakkur, dipastikan sahabat bisa meraih ketenteraman dalam hati.
Tidak tercapainya ketentraman hati ketika berdzikir, mungkin disebabkan karena tujuan kita berdzikir bukan karena Allah, bukan menuju dan kembali kepada Allah. Tetapi masih ada tujuan-tujuan lain, seperti agar bisnis kita maju, agar karier kita memuncak, agar sukses dan lain sebagainya. Tujuan-tujuan selain Allah itulah yang mengkabuti jiwa kita. Sebab jika kita mempunyai tujuan-tujuan atau sesuatu yang kita mohonkan kepada Allah, maka tempatnya ada dalam do’a. Dan ketika kita selesai berdzikir, baru kita berdo’a. Bukan pada saat kita berdzikir!!!… Di sebutkan dalam Al Qur’an Surat Al Fajr: 27-28 “ Wahai jiwa yang tenang, Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” Jiwa akan tenang kalau tujuan kita adalah meraih Ridha-Nya. Dan jiwa yang diridhai itu adalah jiwa yang senantiasa mengembalikan segalanya kepada Allah Azza Wa Jalla. Hindarilah kata-kata seperti: “seandainya dulu begini… begitu…, pasti tidak begini… begitu…” pengandaian terhadap hal-hal yang telah lalu hanyalah omongan hawa nafsu, yang ujung-ujungnya menjadi tunggangan syetan laknatullah. Sebagaimana tertulis dalam Al Qur’an Surat An Naml: 4, Allah SWT berfirman: ”…Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka…”.

Alkisah: Seorang Kyai dengan Ilmu hikmahnya yang luas, memiliki seekor burung beo yang pandai mengucapkan Salam dan kalimat-kalimat Dzikir: ”Subhanallah, Alhamdulillah, Laailahaillallah, Allahu Akbar..” setiap saat diulang-ulangnya kalimat itu, tiada hari tanpa berdzikir… makin hari, makin fasih aja si burung. Pak Kyai senangnya bukan main, hampir tiap hari ada saja orang yang menawar (untuk membelinya), tapi dengan tegas Pak Kyai selalu mengatakan tidak dijual berapa pun harganya. Hingga suatu hari si burung beo (burung kesayangan Pak Kyai) disambar kucing, dan terdengar suaranya yang nyaring saat sakaratul maut ”keak… keak… keak…”. Pak Kyai melihat sendiri kejadian itu. Akibatnya, Beliau pun menangis dan bersedih selama ber hari-hari. Sampai seorang santri memberanikan diri untuk bertanya perihal apa yang telah terjadi hingga Pak Kyai sangat sedih?…

”Sembari meneteskan air mata, Pak Kyai menjelaskan bahwa burung beo-nya telah mati disambar kucing, padahal burung itu senantiasa mengucapkan kalimat-kalimat dzikir. ”Dan yang membuatku sedih adalah ketika burung beo itu mengalami sakaratul maut, burung beo itu tidak mengucapkan kalimat-kalimat dzikir yang biasa dibacanya setiap hari, tapi hanya ”keak… keak… keak…” kata-kata itu yang keluar dari paruhnya… itu sebabnya aku menangis sedih…” kata Pak Kyai.
”Lebih sedih lagi, ketika aku teringat betapa setiap hari kita berdzikir, Subhanallah…, Alhamdulillah…, Laailahaillallah..,. Allahu Akbar…, dan setiap kita (makhluk hidup) pasti akan mengalami kematian. Mungkinkah, saat sakaratul maut nanti kita membawa/ mengucapkan dzikir-dzikir yang biasa kita ucapkan seperti saat kita masih hidup?..”. Sambil menahan isak tangis Beliau kembali bertanya: ”Atau mungkin, saat ini kita tidak sedang berdzikir, tapi kita sedang membeo?..”
”Astaghfirullahal Adlim…”

Sahabat… cerita di atas dapat kita simpulkan bahwa dzikir yang sebenarnya adalah dzikir yang ikhlas dari dalam hati kita, bukan hanya di bibir. Karena dengan keikhlasan itu, maka hati akan senantiasa menuntun anggota tubuh kita untuk ikut selalu berdzikir secara spontanitas. Hal ini disebab kan karena kebarokahan akan ke-”istiqomah”an (berkelanjutan/ terus menerus) itu sendiri.
Sesuai dengan hadits Nabi SAW” Istiqomah itu lebih baik dari seribu karomah”.
Sedangkan dzikir itu bermacam-macam, baik dari ucapan maupun amal perbuatan. Sehingga kita bebas mengamalkannya sesuai dengan yang kita suka, yang kita inginkan, dan yang kita mampu. Asalkan diiringi dengan rasa ikhlas semata-mata mengharap ridlo Allah SWT serta tidak melenceng dari syariat Islam. Wallahu bis showab…